Wasiat Rosululloh SAWW

http://syiahimamiah.wordpress.com/


Wahai hamba Allah, kalian semua laksana pasien yang sedang menderita sakit dan Tuhan sekalian alam dokternya. Maka kesembuhan si pasien terletak pada apa-apa yang diketahui dan diatur oleh dokternya, bukan pada apa-apa yang diinginkan dan diusulkan oleh si pasien. Karena itu serahkanlah seluruh urusan kepada Allah, niscaya kalian tergolong orang yang beruntung.
Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan tergolong dari mereka. Dan barangsiapa yang mendengar panggilan saudaranya yang meminta tolong lalu tidak menolongnya, maka ia bukan seorang muslim.
Suatu saat Rasulullah saww mengutus pasukan untuk berperang dan ketika mereka pulang Beliau saww bersabda : “Selamat datang para kaum yang telah melaksanakan jihad kecil, sementara jihad besar masih menunggu mereka.” Lalu mereka bertanya : “Apa jihad besar itu wahai Rasulullah ?” Rasul saww menjawab : “Perang melawan hawa nafsu.”
Apabila bid’ah telah merajalela di tengah-tengah umatku, maka kewajiban si alim untuk menampakkan ilmunya. Barangsiapa tidak melaksanakan kewajiban itu, maka akan terkena laknat dari Allah SWT.
Para fuqoha adalah pengemban amanah para rasul selama mereka tidak memasuki urusan dunia. Lalu beliau ditanya : “Apa yang dimaksud masuknya mereka dalam urusan dunia ?” Rasulullah saww menjawab: “Selalu mengikuti kemauan sultan (pemimpin).” Apabila mereka berbuat demikian, maka hati-hatilah dari mereka terhadap urusan agama kalian.
Aku tidak khawatir atas ummatku dari mu’min maupun musyrik, sebab yang mu’min telah dijaga oleh imannya sedang si musyrik telah dibelenggu kekafirannya. Namun yang aku takutkan atas kalian adalah keberadaan seorang munafik yang pandai berbicara tentang apa-apa yang kamu ketahui namun dia berbuat apa-apa yang kamu ingkari.

Pada hari kiamat terdengarlah suara panggilan : Di manakah orang-orang yang zalim serta para pendukungnya ? Maka barangsiapa yang membantu mereka walau dengan tinta atau sekedar mengikatkan tali kantong mereka atau membantu meminjamkan pena, maka mereka akan digiring bersama orng-orang zalim tersebut.
Di atas setiap kebajikan ada kebajikan lain, hingga seseorang terbunuh di jalan Allah. Maka jika ia terbunuh di jalan Allah, tiada lagi kebajikan lain di atasnya.
Sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang menjual akhiratnya demi urusan dunianya. Dan yang lebih jelek lagi darinya adalah orang yang menjual akhiratnya demi kepentingan dunia orang lain.
Barang siapa mencari kerelaan sultan (pemimpin), dengan sesuatu yang membuat Allah murka, maka dia telah keluar dari agama Allah.
Barang siapa yang mendatangi si kaya dengan merendahkan diri di hadapannya, maka hilanglah sepertiga agamanya.

Tanda-tanda seorang yang bakti itu ada sepuluh :
1. Cinta karena Allah dan benci karena Allah.
2. Berteman karena Allah dan berpisah karena Allah.
3. Marah karena Allah dan rela (ridha) karena Allah.
4. Beramal karena Allah dan meminta hartanya kepada Allah.
5. Takut hanya kepada Allah.
6. Bersih hati.
7. Ikhlas.
8. Malu kepada-Nya.
9. Selalu mengoreksi dirinya.
10. Berbuat kebaikan karena Allah.

Akan datang suatu zaman dari umatku, mereka tidak mengenal ulama kecuali dengan pakaian yang bagus. Dan mereka tidak mengenal Al-Quran kecuali dengan suara yang merdu. Serta tidak menyembah Allah kecuali hanya di bulan puasa. Jika itu telah terjadi maka Allah akan menguasakan atas mereka pemimpin yang bodoh, yang tidak mengenal belas kasih serta tidak memiliki rasa rahmat.
Pada hari kiamat ditimbanglah tinta para ulama dengan darah para syuhada, maka tinta para ulama lebih berat dari darah para syuhada.
Perumpamaan keluargaku, laksana bahtera Nabi Nuh as. Barang siapa yang mengikutinya (menaikinya), dia akan selamat. Dan barang siapa yang enggan menaikinya ia akan tenggelam (binasa). Terkutuklah orang yang membebankan tanggung jawabnya kepada orang lain.

Pada hari kiamat seorang hamba tidak akan bergeser kedua kakinya hingga ditanyai tentang empat perkara :
1. Tentang umurnya untuk apa dihabiskan.
2. Tentang masa mudanya dengan apa ia lalai.
3. Tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana diinfakkan.
4. Tentang kecintaannya kepada kami (Ahlul Bait).

Berkata Sam’un : “Beritahulah diriku tanda-tandanya orang yang jahil ?” Rasulullah saww menjawab : “Jika kau temani, dia akan merepotkanmu. Jika engkau jauhi, dia akan mencelamu. Bila memberimu sesuatu, dia akan mengungkit-ungkit. Jika kau memberi sesuatu, dia akan mengingkari. Jika kau berbicarta tentang sesuatu rahasia, dia akan mengkhianatimu. Bila memberi tahu sesuatu hal yang rahasia padamu, ia akan menuduhmu yang bukan-bukan. Bila merasa cukup, dia berlaku sombong dan kasar. Jika butuh sesuatu dia akanmeremehkan nikmat Allah tanpa merasa berdosa. Jika senang dia akan melampaui batas. Jika ditimpa kesedihan dia segera berputus asa. Kalau tertawa terbahak-bahak. Jika menangis akan menjerit-jerit. Dia selalu menjelekkan orang baik. Serta tidak mencintai Allah dan tidak mengikuti aturan-Nya. Juga tidak merasa malu kepada Allah. Jarang menyebut nama-Nya. Jika kau dianggap merelakannya, dia akan memujimu dengan pujian yang tidak ada padamu. Dan jika marah kepadamu, dia akan mencacimu dengansesuatu kejelekan yang tidak pernah engkau lakukan. Itulah perilaku orang jahil.”

Rasulullah saww bersabda : Wahai Ali apakah engkau menginginkan 600 ribu kambing, 600 ribu dinar atau 600 ribu kalimat ? Lalu Imam Ali as menjawab : “Wahai Rasulullah saww aku menginginkan 600 ribu kalimat.” Lalu Rasulullah saww bersabda : “Wahai Ali! Aku akan meringkas 600 ribu kalimat itu dalam enam kalimat.
1. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba mengerjakan yang bukan kewajiban mereka, maka sibukkanlah dirimu dengan menyempurnakan kewajibanmu.
2. Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba dalam urusan dunia, maka sibukkanlah dirimu dengan urusan akhirat.
3. Apabila manusia sibuk mengurusi aib (cela) orang lain, maka uruslah aibmu sendiri.
4. Jika manusia saling memperindah dunianya, maka hiasilah akhiratmu.
5. Dan jika engkau melihat manusia sibuk dengan memperbanyak amal, maka beramallah yang ikhlas.
6. Dan ketika engkau melihat manusia menjadikan makhluk sebagai perantaranya, maka jadikanlah Allah sebagai perantaramu.”

Mengapa aku menyaksikan kecintaan kepada dunia telah benar-benar menguasai banyak orang, sehingga kematian tidak digariskan kecuali untuk yang selain mereka dan kebenaran seakan-akan hanya diwajibkan kepada orang lain ? Tidak, sungguh tidak sedemikian itu, tidakkah mereka mengambil pelajaran dari umat yang terdahulu ?
Tuhanku mewasiatkan (mewajibkan) kepadaku tentang sembilan perkara :
1. Agar ikhlas dalam segala amal, baik yang kulakukan secara sembunyi ataupun terang-terangan.
2. Bertindak adil dalam keadaan rela atau marah.
3. Sederhana dalam keadaan kaya atau miskin.
4. Memaafkan orang yang menzalimiku.
5. Memberi orang yang menyetop pemberiannya kepadaku.
6. Menyambung tali kekeluargaan dari orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan denganku.
7. Menjadikan diamku sebagai waktu untuk berpikir.
8. Pembicaraanku sebagai zikir.
9. Pandanganku sebagai ibrah (mengambil pelajaran dari selainnya).

Wahai Ali! Janganlah engkau marah. Dan apabila engkau marah, maka duduklah sembari memikirkan kekuasaan Allah atas hamba-hamba-Nya dan kelembutan-Nya pada mereka.
Tiada seorang yang mengikhlaskan amal perbuatannya (semata-mata karena Allah) selama empat puluh hari, kecuali akan memancar sumber hikmah dari lisannya sebagai luapan dari apa yang terkandung dalam hatinya.
Wahai Ali! Semua mata akan berlinang (menangis) pada hari kiamat, kecuali tiga mata :
1. Mata yang semalaman dipakai di jalan Allah.
2. Mata yang tercegah dari apa-apa yang diharamkan Allah (untuk dipandang).
3. Mata yang berlinangan karena takut kepada Allah.

Aku ini adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Maka barang siapa yang menginginkan ilmu, hendaklah mendatangi pintunya.
Wahai Abu dzar! Raih dan manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya.
1. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu.
2. Masa sehatmu sebelum sakit menimpamu.
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.
4. Masa senggangmu sebelum datang sibukmu.
5. Dan masa hidupmu sebelum maut merenggutmu.

Allah SWT tidak menilai rupa atau harta kalian, tapi Allah menilai hati dan perbuatan kalian.

Wahai manusia! Aku tinggalkan padamu (sesuatu), jika kalian berpegangan padanya, tidak akan tersesat selamanya; Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Itrahku Ahlul Baitku.
Rasulullah saww bersabda : Isa putra Maryam bersabda kepada para pengikutnya yang setia : “Bergaullah dengan orang yang apabila engkau memandangnya, dia akan mengingatkanmu kepada Allah. Sedang perkataannya akan menambah ilmumu. Dan, perbuatannya akan membuatmu cenderung beramal untuk akhirat.”

Empat perkara yang menjadi tanda kemunafikkan. Dan jika salah satunya ada pada seseorang maka dia telah menyandang sebagian tanda (karakter) tersebut sehingga ia meninggalkannya. Yaitu :
1. Jika berbicara ia berbohong.
2. Jika berjanji ia mengingkari.
3. Jika bekerjasama ia akan menipu.

Dan jika bermusuhan akan bertindak aniaya(fajir). Sejelek-jelek umatku adalah orang yang dihormati orang lain karena takut akan kejahatannya. Ketahuilah barang siapa yang dimuliakan manusia semata-mata agar terhindar dari kejahatannya, maka ia sekali-kali bukan pengikutku (golonganku).
Seorang mukmin tidak akan terperosok dua kali dalam satu lubang yang sama.
Wahai sekalian manusia: Jauhilah perbuatan zina, karena ia akan mengakibatkan enam perkara. Tiga di dunia, sementara tiga lainnya di akhirat. Adapun yang di dunia: Akan menghilangkan karismatik, mengakibatkan kefakiran, dan mengurangi umur. Sedang tiga yang di akhirat yaitu: Menyebabkan murka Allah SWT, sulitnya hisab, dan akan kekal di dalam api neraka.

Wahai Ali! Barangsiapa yang belum mempunyai tiga karakter ini, maka dia belum melakukan suatu amal pun:
1. Wara’ yang bisa mencegahnya dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT.
2. Ilmu yang bermanfaat bagi orang-orang bodoh.
3. Akal yang bermanfaat bagi sekalian manusia.

Barangsiapa yang mati atas dasar kecintaannya kepada keluarga Muhammad SAWW maka ia mati syahid. Ketahuilah! Barangsiapa mati atas dasar kecintaan kepada keluarga Muhammad SAWW maka ia mati dalam keadaan terampuni dosanya. Ketahuilah! Barangsiapa mati atas dasar kecintaannya kepada keluarga Muhammad SAWW mati dalam keadaan bertobat. Ketahuilah! Barangsiapa mati atas dasar kecintaannya kepada keluarga Muhammad SAWW maka ia mati sebagai mu’min yang sempurna imannya. Ketahuilah! Barangsiapa mati atas dasar kecintaannya kepada keluarga Muhammad SAWW akan diberita gembirakan oleh Malaikat Maut serta Malaikat Munkar dan Nakir akan sorga sebagai tempat kembalinya. Ketahuilah! Barangsiapa mati atas dasar kecintaannya kepada keluarga Muhammad SAWW maka ia akan diarak ke surga laksana pengantin yang digiring ke tempat mempelainya.
Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu maka dengan lisannya. Dan kalau juga tidak mampu maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.
Peminum khomer seperti penyembah berhala. Wahai Ali! Allah menolak sholatnya peminum khomer selama empat puluh hari. Dan jika dia mati dalam waktu empat puluh hari itu, dihitung mati kafir.
Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah mewajibkan atas kita kependetaan (tidak kawin, tidak berhubungan dengan dunia) akan tetapi kependetaan umatku adalah fisabilillah.
Barangsiapa yang mengulur-ulur waktu untuk berhaji lalu dia mati, maka di hari kiamat ia akan dibangkitkan oleh Allah SWT sebagai orang Yahudi atau Nasrani.
Pandangan itu laksana panah beracun dari panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah SWT akan Allah SWT beri keimanan yang akan dirasakan oleh hatinya.
Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan. (Shahih Bukhari, jilid 5, hal. 65, cet. Darul Fikr)
http://syiahimamiah.wordpress.com/

Keutaman Amirul Mukminin Al Imam Ali Bin Abi Thalib as

http://infosyiah.wordpress.com
Bila umat Nabi Muhammad Rasulullah menyampaikan keutamaan-keutamaan Sayidina Ali, banyak orang menuduh mereka mempertuhankan Sayidina Ali. Padahal kita hanya mengingat keutamaan-keutamaan itu agar kita meneladaninya. Ada baiknya semua Muslim mengetahui keutamaan beliau agar tidak salah sangka:

1.Beliau adalah satu-satunya manusia yang dilahirkan di dalam Ka’bah

2.Beliau tidak pernah mengotori wajahnya dengan bersujud di depan berhala.

3.Pada pasca balita beliau “diambil” Rasulullah untuk hidup bersama beliau dan tidak pernah berpisah sampai wafat Rasul.

4.Pada tahun ke tiga kenabian saat Rasulullah mengajak kerabat dekatnya masuk Islam dan meminta mereka membantu Rasul,sampai tiga kali hanya beliau (Sayidina Ali yang masih belia)yang menjawab dan menyanggupinya.

5.Beliau tidur di ranjang Rasul agar Rasulullah dapat keluar untuk hijrah dengan selamat, karena para musuh menyangka Rasul masih ada di ranjangnya.

6.Beliau adalah orang yang melakukan sedekah sembari rukuk sebagaimana disebut dalam Al Qur’an.

7.Beliau adalah “diri-diri kami”yang dipilih Rasul untuk bermubahalah dengan pendeta Najran.

8.Beliau selalu menjadi pahlawan Rasul dalam peperangan termasuk dalam perang Uhud yang membahayakan keselematan Rasulullah.

9.Sewaktu para sahabat dipersaudarakan berpasang-pasangan,beliau adalah saudara dan pasangan Rasulullah.

10.Bila Rasulullah adalah kota ilmu maka Sayidina Ali adalah pintu gerbang untuk masuk ke kota ilmu itu.

11.Sayidina Ali terhadap Rasulullah ibaratnya adalah Nabi Harun as bagi Nabi Musa as, hanya saja tiada nabi lagi sesudah Rasulullah.

12.Sayidina Ali adalah saudara sepupu, anak angkat dan didik sekaligus menantu Rasulullah yang dianggap lebih mulia dari puteri Rasul sendiri yang paling Rasul cintai.

Dan Al-Qur’an , Hadis,sejarah,riwayat, tafsir menceriterakan begitu banyak lagi kisah keutamaan Sayidina Ali. Namun kami tidak memertuhankan beliau,hanya mengenang keutamaan-keutamaan itu agar kami selalu mendapat karomah,karena kami mengikuti contoh keteladanan itu.
Tentu tidak heran kalau Khalifah Umar bin Khattab pun sangat menginginkan keutamaan itu.
http://infosyiah.wordpress.com

Kepala Nabi Muhammad SAWW berada di pangkuan Ali bin Abi Thalib as ketika ruhnya dicabut

http://infosyiah.wordpress.com

Pada tanggal 28 Safar bertepatan dengan tahun 10 hijriah, Nabi Muhammad
saw menutup mata dan berpulang ke rahmatulloh. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib as: “Nabi berada di pangkuanku ketika ruhnya dicabut. Setelah itu aku mengusap wajahnya. Aku yang memandikan Rasulullah dengan dibantu oleh para malaikat.
Semua itu kulakukan sampai menguburkannya…” (Nahjul Balaghah).
Saat-saat Imam Ali bin Abi Thalib as mengafani Rasulullah saw ia berkata:
“ayah dan ibuku menjadi perisai untukmu wahai Rasulullah! Dengan kematianmu,kami terhalang untuk mendapatkan nikmat, hal yang tidak akan kami alami bila orang lain yang meninggal. Nikmat itu adalah nikmat kenabian dan wahyu. Musibah kehilangan dirimu lebih dari musibah-musibah lainnya. Dirimu tidak dapat dibandingkan dengan yang lainnya. Semua orang merasa sedih dengan kepergianmu. Engkau memerintahkan kami untuk bersabar dan tidak berteriak-teriak.
Sumber air mata kami telah kering, sementara kesedihan kami tetap tinggal bersama kami. Namun, semua kesulitan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan dirimu. Kematian tidak dapat dihindari. Ketika engkau berada di sisi Allah, jangan lupakan kami. Ingatlah kami di sisi-Nya!…” (Nahjul Balaghah)

Sejarah mencatat bagaimana Ali bin Abi Thalib as dalam suasana berkabung, memandikan jenazah Nabi, mengafaninya dan menguburkannya. Sementara itu, sekumpulan sahabat sedang berkumpul di sebuah tempat bernama Saqifah berbicara mengenai suksesi.

Alasan yang dipakai untuk menunjukkan kelayakan mereka sebagai khalifah, sama dengan alasan para pemimpin kabilah sebelum Islam. Menurut mereka, kaum Anshar mengklaim mereka lebih pantas karena mereka yang menolong kaum Muhajirin. Mereka memberi tempat ketika kaum Muhajirin diusir di Mekkah.

Sementara Muhajirin mengatakan mereka lebih layak karena Nabi dari kaum muhajirin. Sungguh ironis kondisi kaum muslimin awal Islam. Baru ditinggal sang pemimpin sudah ribut.[infosyiah]
http://infosyiah.wordpress.com

Nikah Mut'ah

http://umfat.wordpress.com
NIKAH MUT’AH SEBUAH ALTERNATIF MENGHINDARI BERPACARAN YANG IDENTIK MENDEKATI ZINA ITU

April 21, 2008 pada 4:54 am · Disimpan dalam Bina Insan, Hikmah, Jelajah hakekat, Renungan ·yang berkaitan Add new tag

DUA BENTUK PERNIKAHANDALAM SYARIAT ISLAM(MENURUT KAJIAN SYIAH)

Telah ditegakan syariat perkawinan dalam Islam keatas dua bentuk :

1. Nikah Da’im (Tetap, tidak punya batas waktu), ianya sebagai pernikahan yang diutamakan oleh ajaran Islam dan ia merupakan garis panduan pertama yang di syariatkan Islam dalam bab perkawinan.

2. Nikah Muwaqat atau dikenal dengan nikah mut’ah (Temporary, mempunyai batas waktu), ianya sebagai pernikahan yang dilambangkan sebagai bendera pengamanan yang melindungi masyarakat dari terjerumus kelembah kehinaan perzinahan, pernikahan ini dilakukan ketika kondisi tidak memungkinkan untuk menjalankan pernikahan Da’im bagi seseorang dikarenakan berbagai hal yang sesuai dengan tuntunan syariat, atau seseorang dianggap memungkinkan untuk dapat melakukan kawin Da’im tetapi karena alasan yang ma’kul dan sesuai dengan syariat yang menuntutnya untuk menjalankan nikah secara muwaqat.

Sesungguhnya penikahan muwaqat mempunyai beberapa persamaan dengan perkawinan Da’im dari segi menjadikan halalnya penyaluran syahwat bagi mereka yang melakukan perkawinannya dengan salah-satu dari kedua bentuk perkawinan ini sebagai jalan penyaluran syahwat yang dihalalkan oleh Allah swt.

Demikian juga dalam penjagaan nasab-keturunan juga sama dengan nikah Da’im, artinya dengan nikah mut’ah silsilah keturunan tetap bisa dijaga dari percampurannya. Demikian juga nikah mut’ah tetap memberi kesan keterjagaan iffat/moral dan kehormatan dalam masyarakat, demikian juga dalam segi tata-cara pelaksanaannya yang memerlukan kepada aqad nikah, mahar, iddah dan ia juga akan berakhir dengan adanya hukum waris-mewarisi dan pemberian nafqah kepada sang anak. walaupun perbedaannya terletak pada penyebutan batas waktu berlakunya pernikahan dan pernikahan muwaqat juga tidak akan berakhir dengan adanya hukum waris-mewarisi bagi suami/Istri dan tidak ada kewajiban bagi suami untuk memberi nafqah kepada istri.

Bentuk pernikahan Mut’ah adalah bentuk pernikahan yang ditetapkan oleh Allah swt dengan nash Quran-Nya yang agung dan sunnah Nabi-Nya yang mulia saww, dan tidak ada seorang muslim-pun yang menentang keberadaan pentasyriannya di jaman Rasulullah saww. Dan adapun yang menyebabkan munculnya ikhtilaf sehingga sebagian dari kaum muslimin menganggapnya tertolak untuk dilakukan oleh mereka adalah karena khalifah kedua Umar bin Khatab pernah melarangnya dan mengancam mereka yang melakukannya dengan menjatuhkan hukuman, dari itu hukum haram nikah mut’ah diperuntukan bagi mereka yang mengikuti mazhab khulafa’ (Umar bin Khatab) yang menganggap hujjah segala perbuatan dan ucapan para sahabat Nabi saww, oleh itu mereka menganggap perkataan Khalifah Umar itu berkedudukan sebagai menasakhkan / menghapus / menggantikan hukum kebolehan nikah Mut’ah yang pada hakekatnya mempunyai hukum perbolehan secara nash Qurani yang kuat, yang mana Quran dan Nabi sendiri tidak pernah mengeluarkan hukum nasikh/penghapusannya.

NIKAH MUT’AH DALAM KITABULLAHIL-MAJIID dan SUNNAH RASULILLAH SAWW

Telah dapat dipahami bersama oleh seluruh kaum muslimin bahawa Allah swt telah mensyariatkan nikah ini dalam agama Islam, dan bagi para ulama dari berbagai mazhab Islam tidak ada ikhtilaf dalam perkara ini, bahkan mereka mengakui nikah mut’ah sudah diasaskan dalam syariat Islam sebagai perkara yang dharuri/penting sekali.

Demikian perkara nikah Mut’ah ini termaktub dalam kitab suci Allah swt dan dalam hadits Rasulillah saww yang mulia, baik berdasarkan periwayatan dari kalangan yang mengakui menolak nikah mut’ah, kita akan mengkajinya kembali. Adapun dalil nash Quran mengenai nikah Mut’ah demikian Allah swt berfirman :
وَأُحِلَّ لَکُم مَّا وَرَآءَ ذَالِکُم أَن تَبتَغُوا بِأَموَالِکُم مُحصِنِینَ غَیرَ مُسَافِحِینَ فَمَا استَمتَعتُم بِهِ مِنهُنَّ فَآتُوهُنَّ اُجُورَهُنَّ فَرِیضُةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَیکُم فِیمَا تَرَاضَیتُم بِهِ مِن بَعدِ الفَرِیضَةِ إِنَّ اللهَ کَانَ عَلِیماً حَکِیماً.

“Dan telah dihalalkan bagi kalian laki-laki (selain dari wanita-wanita yang diharamkan bagi kalian yang sudah disebutkan dalam ayat sebelumnya), untuk meminta/mendapati wanita lain dengan menggunakan harta-kalian sedang kalian-pun harus menjaga kehormatan dan tidak melakukan perzinaan, maka wanita yang telah kalian mut’ahkan itu hendaknya kalian berikan maharnya sebagai kewajiban yang mesti ditunaikan, dan tidak ada dosa bagi kalian setelah bersepakat bersama terhadap mahar tertentu untuk menentukan/membatasi masa berlakunya aqad atau untuk menambah atau mengurangi mahar itu (dalam apa yang kalian saling suka-sama suka/saling ridho), tentunya Allah Maha mengetahui dan Maha Bijaksana”.

Quran/An-Nisa’/24.

Adapun dalam penjelasan kitab-kitab tafsir dan musnad hadist menyebutkan bacaan kalimat:

اِلَی أَجَلٍ مُسُمَّی فَمَا استَمتَعتُم بِهِ مِنهُنَّ

yang berarti : maka wanita yang telah kalian mut’ahkan hingga batas waktu yang ditentukan,

Hal ini menurut mereka menunjukan ayat itu sedang membicarakan prihal nikah Muta’ah bukan nikah Da’im, demikian Ubai bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Ibnu Mas’ud (para sahabat Nabi saww) membacanya, dan hal ini telah dinukilkan oleh Thabari dalam kitab Tafsir Kabirnya dalam mentafsirkan ayat tersebut, demikian juga Zamakhsyari dalam kitab Tafsir Kasyafnya menyampaikan perkara yang sama, Imam Ahmad bin Hambal pun menekankan yang demikian dalam kitab Musnadnya, Jalaludin Suyuthi dalam kitab Durul-Mansturnya dan banyak lagi kitab-kitab tafsir dan hadits yang menjelaskannya, yang pada kesempatan ini kita tidak dapat menukilkannya semua.

Dalam kitab Tafsir Kasyaf Zamakhsyari juz 1/hlm 498-cetakan Beirut- menuliskan perkataan Ibnu Abbas : “Sesungguhnya ayat Mut’ah tergolong ayat Muhkamah/mempunyai hukum yang jelas dan kuat dan bukan tergolong ayat yang dimansukhkan/yang dihapus hukumnya”.

Dan dalam kitab Bidayatul-Mujtahid juz2/hlm58 menyebutkan perkataan Ibnu Abbas : “Kami telah melakukan mut’ah di jaman kehidupan Rasulillah saww dan di jaman Abu Bakar dan setengah dari masa ke-khalifahan Umar Bin Khatab lalu Umar melarang manusia untuk melakukannya”.

Dalam kitab Shahih Muslim juz 4/hlm 131-menaqalkan dari Jabir yang berkata: “Kami bermut’ah… di jaman Rasulillah saww dan di jaman Abi Bakar… kemudian Umar melarangnya …”.

Demikian juga dari Hakim dan Ibnu Juraih dan selain mereka berdua telah berkata : “Ali alahi-salam telah bersabda : “Kalaulah Umar tidak melarang mut’ah maka tidak akan berlaku zina kecuali bagi orang yang hina-celaka atau pendek akalnya”, riwayat ini telah disebutkan dalam tafsir Tabari juz 5/9, Tafsir Razi 10/50, dan dalam tafsir Durul Mansur 2/140.

Dan banyak hadits yang diriwayatkan secara mutawatir menekankan bahawa ayat yang mulia menghalalkan nikah Mut’ah dan menunjukan ke-abadian syariat hukumnya.

Kita pada akhirnya dapat mengambil kesimpulan kebolehan hukum nikah Mut’ah masih berlaku lagi, tentunya banyak perkara yang mesti dikaji kembali untuk mendapatkan kesimpulan yang demikian bagi selain syiah.(Perlulah Anda ketahui masih banyak perkara yang tidak sempat kami jelaskan pada kesempatan ini, olehnya kalau ada yang tidak jelas silakan merujuk kembali). Wassalam semoga bermanfaat untuk menambah makrifat).
http://umfat.wordpress.com

Airmata Rasulullah SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa ali Muhammad Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

by : hapigo_crb