http://infosyiah.wordpress.com
Pada tanggal 28 Safar bertepatan dengan tahun 10 hijriah, Nabi Muhammad
saw menutup mata dan berpulang ke rahmatulloh. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib as: “Nabi berada di pangkuanku ketika ruhnya dicabut. Setelah itu aku mengusap wajahnya. Aku yang memandikan Rasulullah dengan dibantu oleh para malaikat.
Semua itu kulakukan sampai menguburkannya…” (Nahjul Balaghah).
Saat-saat Imam Ali bin Abi Thalib as mengafani Rasulullah saw ia berkata:
“ayah dan ibuku menjadi perisai untukmu wahai Rasulullah! Dengan kematianmu,kami terhalang untuk mendapatkan nikmat, hal yang tidak akan kami alami bila orang lain yang meninggal. Nikmat itu adalah nikmat kenabian dan wahyu. Musibah kehilangan dirimu lebih dari musibah-musibah lainnya. Dirimu tidak dapat dibandingkan dengan yang lainnya. Semua orang merasa sedih dengan kepergianmu. Engkau memerintahkan kami untuk bersabar dan tidak berteriak-teriak.
Sumber air mata kami telah kering, sementara kesedihan kami tetap tinggal bersama kami. Namun, semua kesulitan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan dirimu. Kematian tidak dapat dihindari. Ketika engkau berada di sisi Allah, jangan lupakan kami. Ingatlah kami di sisi-Nya!…” (Nahjul Balaghah)
Sejarah mencatat bagaimana Ali bin Abi Thalib as dalam suasana berkabung, memandikan jenazah Nabi, mengafaninya dan menguburkannya. Sementara itu, sekumpulan sahabat sedang berkumpul di sebuah tempat bernama Saqifah berbicara mengenai suksesi.
Alasan yang dipakai untuk menunjukkan kelayakan mereka sebagai khalifah, sama dengan alasan para pemimpin kabilah sebelum Islam. Menurut mereka, kaum Anshar mengklaim mereka lebih pantas karena mereka yang menolong kaum Muhajirin. Mereka memberi tempat ketika kaum Muhajirin diusir di Mekkah.
Sementara Muhajirin mengatakan mereka lebih layak karena Nabi dari kaum muhajirin. Sungguh ironis kondisi kaum muslimin awal Islam. Baru ditinggal sang pemimpin sudah ribut.[infosyiah]
http://infosyiah.wordpress.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment